Salah satu hiburan saya adalah menonton Drama Korea. Ketertarikan saya ada pada jalan ceritanya dan pesan-pesan yang disampaikan melalui kehidupan sehari-hari para karakter. Saat ini, saya sedang menonton drama Korea berjudul Good Partner. Bukan tanpa alasan saya memilih drama ini; Good Partner sarat dengan pembelajaran keluarga yang dikemas dengan tokoh utama sebagai pengacara perceraian Bernama Cha Eun Kyung yang bekerja bersama pengacara junior Han Yu Ri yang menangani kasus-kasus yang kadang menguras emosi.
Saat menonton episode 10, ada cerita yang saya highlight karena terbilang unik. Dikisahkan salah satu klien sang pengacara adalah seorang ibu berusia 60 tahun yang tampak memiliki segalanya. Suaminya sukses, setia, dan dua anaknya sudah memasuki dunia kerja dengan pencapaian yang membanggakan. Namun, ibu ini datang kepada sang pengacara dengan satu permintaan: ia ingin bercerai.
Keluarga yang Tampak Sempurna
Keluarga ini tampak sempurna. Suami yang selalu setia, memenuhi kewajiban, dan tidak pernah memberikan masalah besar dalam pernikahan. Anak-anak yang tumbuh menjadi pribadi-pribadi sukses, tidak hanya dalam karier mereka tetapi juga dalam kehidupan sosial. Bisa dikatakan keluarga ini adalah definisi dari “keluarga bahagia”.
Namun, di balik semua itu, ada sesuatu yang tidak terlihat oleh mata orang luar. Ada ibu yang selama bertahun-tahun hanya berperan sebagai pendukung, sebagai orang di belakang layar yang memastikan semua hal berjalan lancar untuk suami dan anak-anaknya. Dia adalah ibu rumah tangga yang berdedikasi, yang mengorbankan waktu, tenaga, dan mungkin juga mimpinya demi kesuksesan keluarganya.
Dimana Masalahnya?

Mungkin Anda juga bertanya-tanya, jika keluarganya begitu sempurna, mengapa ibu ini ingin bercerai?
Ternyata, alasan utamanya bukanlah masalah ekonomi, perselingkuhan, atau kekerasan—alasan yang sering kita dengar dalam kasus perceraian. Alasan ibu ini lebih dalam dan mungkin lebih sulit dipahami oleh banyak orang: dia merasa bahwa mimpinya tidak pernah diberi ruang dalam pernikahannya. Sejak menikah, dia memendam keinginan untuk menjadi penulis novel. Namun, suaminya tidak pernah mendukungnya untuk mengejar mimpi tersebut. Pernikahan mereka hanya berpusat pada pengabdian sang istri untuk suami dan anak-anaknya.
Ada kutipan dari buku The Top Five Regrets of the Dying oleh Bronnie Ware yang sangat relevan dengan situasi ini: “I wish I’d had the courage to live a life true to myself, not the life others expected of me.” Dalam buku tersebut, penulis mengungkapkan bahwa salah satu penyesalan terbesar orang yang sedang mendekati akhir hidup mereka adalah tidak menjalani kehidupan yang sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Penyesalan ini mencerminkan perasaan ibu ini—dia telah menjalani hidup sesuai ekspektasi orang lain, tanpa pernah mengejar mimpinya sendiri.
Mimpi yang Terkubur
Selama bertahun-tahun, ibu ini mengubur mimpinya dalam-dalam. Dia terus mendukung suami dan anak-anaknya tanpa pernah mempertimbangkan apa yang dia inginkan untuk dirinya sendiri. Namun, seiring berjalannya waktu, keinginan untuk menulis novel tidak pernah benar-benar hilang. Justru, keinginan itu semakin kuat hingga akhirnya dia merasa cukup dengan perannya sebagai “pelayan” dalam keluarga.
Dia merasa bahwa tugasnya sebagai istri dan ibu sudah selesai. Anak-anaknya telah dewasa dan sukses, suaminya pun telah mencapai puncak kariernya. Sekarang, ibu ini ingin fokus pada dirinya sendiri, pada mimpinya yang selama ini terabaikan. Mencintai diri sendiri berarti berani menetapkan batasan, bahkan jika itu berarti mengecewakan orang lain. Ibu ini akhirnya memutuskan untuk menetapkan batasan dalam hidupnya—bahwa sekarang adalah saatnya untuk mewujudkan mimpinya menjadi penulis novel, meskipun itu berarti harus berpisah dari suaminya.
Kebaikan yang dilakukan Terus Menerus Berubah Menjadi Kewajiban

Ada kejadian unik saat si ibu konsultasi ke kantor pengacara, dimana Han Yu Ri meminta asisten mengambilkan minum untuk si ibu, tiba- tiba ibu ini histeris. Ia memendam trauma karena kebiasaan suaminya menyuruh mengambil minum. Pengabdian sebagai istri membuat hal ini menjadi kebiasaan selama puluhan tahun. Namun kemudian kebiasaan ini menjadi sekedar kewajiban seorang istri bagi suaminya. Seperti udara yang dihirup, menjadi terasa tak ternilai karena “seharusnya begitu”, namun yang terjadi adalah orang bisa meninggal saat udara tak ada. Begitu juga sang suami, yang baru merasakannya ketika istri meminta cerai.
Keputusan si istri bukan karena satu hal “sepele” mengambilkan minuman. Anaknya pun masih bergantung dengan pelayanan sang ibu. Mengesampingkan kegiatan ibunya untuk mendahulukan mencuci baju kerja si anak, menjadi pengasuh untuk cucunya.
Tapi tenang saja, semua berakhir begitu si ibu mengungkapkan semua keresahannya, menyatakan keinginannya pada sesi mediasi yang difasilitasi Cha Eun Kyung dan Han Yu Ri
Perceraian Bukan Selalu Karena Selingkuh, Ekonomi, KDRT

Kisah ini memberikan kita pelajaran berharga bahwa perceraian bukan selalu tentang masalah ekonomi, perselingkuhan, atau kekerasan. Terkadang, perasaan tidak didukung atau tidak dihargai dalam hal-hal yang penting secara pribadi bisa menjadi alasan yang valid. Pernikahan yang bahagia tidak hanya bersatunya dua orang yang saling mencintai. Ada satu aspek penting yang perlu diingat: saling mendukung dan menghargai impian masing-masing.
Suami ibu ini mungkin tidak pernah menyadari betapa pentingnya mimpi menulis novel bagi istrinya. Mungkin dia berpikir bahwa kesuksesan materi dan anak-anak yang berhasil sudah cukup untuk membuat pernikahan mereka bahagia. Namun, kebahagiaan dalam pernikahan tidak bisa hanya diukur dari kesuksesan eksternal. Ada kebutuhan-kebutuhan emosional dan psikologis yang juga harus dipenuhi, salah satunya adalah dukungan terhadap impian pribadi.
Ekspektasi Sosial VS Ekspektasi Diri
Bagaimana sih definisi keluarga bahagia? Saat orang melihat sebuah keluarga yang secara ekonomi mapan, suami setia, anak- anak sukses, tentu bisa jadi definisi keluarga bahagia. Tapi ternyata ada yang tidak bahagia dalam pernikahan untuk mewujudkan keluarga ideal sesuai ekspektasi sosial. Jika kita melihat lebih dalam, pernikahan yang sehat adalah pernikahan di mana kedua belah pihak merasa didukung untuk menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri.

