Tidak ada rumah tangga yang tidak mengalami konflik dan perselisihan. Ini fakta, karena pernikahan sejatinya menyatukan dua pribadi yang berbeda. Masing- masing dibesarkan dalam perbedaan lingkungan keluarga, nilai- nilai pendidikan, metode pengasuhan, asppek perjuangan yang dihadapi pun beragam.
Menurut saya, masalah utama pemicu perselisihan adalah komunikasi. Bahkan data statistik penyebab perceraian paling tinggi adalah komunikasi. Jadi, pintu komunikasi yang harus diperbaiki dan dibuka lebar. Jika ditelisik, konflik sebenarnya rangkaian proses berupa “kejadian atau hal yang merugikan salah satu pihak- pelampiasan emosi-penyelesaian”.
- Komitmen untuk menyelesaikan masalah berdua. Tidak melibatkan anggota keluarga lainnya atau diupload ke medsos. Ini semacam perjanjian di awal. Kita tidak tahu pandangan orang lain setelah cerita ini itu mengeluhkan kesalahan2 suami versi kita sebagai korban. Padahal belum tentu benar. Pihak yang boleh terlibat hanyalah mediator/ahli, misalnya konsultan keluarga.
- Pelampiasan marah. Marah boleh, setiap orang berhak meluapkan emosi marah dan punya kebiasaan marah. Namun ada batasan yang sudah ditentukan. Misal: tidak menyakiti diri sendiri atau orang lain, mendiamkan maksimal 3 hari, tidak merusak property secara permanen. Belajar tanggung jawab atas perbuatan sendiri.
- Konflik tidak diperlihatkan. Ini juga semacam perjanjian di awal hubungan. Jangan sampai anak melihat, mereka akan merekam dan menyimpan trauma. Begitu juga jika ada anggota keluarga lain. Tidak ada faedahnya tontonan orang berantem.
- Komitmen fokus pada solusi. Stop konsep “aku diemin biar dia sadar sendiri”, atau kode- kodean “nggak masak hari ini, biar dia sadar duit belanja kurang”. Dibicarakan permasalahannya dimana.
- Minta maaf dan memaafkan. Keduanya sama- sama sulit. Apalagi besar gengsi kalau merasa “kan aku yang benar, dia yang salah”. Selesaikan sampai bermaafan, lega tidak menyimpan di hati.
Setiap keluarga memiliki permasalahannya masing- masing. Setiap generasi punya tantangannya masing- masing. Semua hal yang tak layak untuk diteruskan, tidak perlu kita wariskan ke anak- anak. Perlakuan tak menyenangkan yang kita terima tidak harus kita lakukan juga ke pasangan.

