
Tidak semua orang harus suka sama kita. Dalam lingkungan sosial entah di kerjaan, sekolah, atau masyarakat, selalu ada saja orang yang tidak suka. Kalau itu terjadi, biarkan saja. Kamu cukup tahu, tanpa harus memaksa orang lain untuk suka. Karena sejatinya, preferensi orang itu bukan sesuatu yang bisa kita ubah.
Selama kamu tahu di mana kesalahanmu dan kapan kamu tidak salah, ya sudah: let it be. Tidak semua kebencian orang itu salahmu.
Aku punya beberapa cerita tentang hal ini.
Suatu waktu, aku melihat seorang teman yang dibully dan tidak disukai oleh salah satu seniornya. Waktu aku baru masuk, aku coba mempelajari situasi, mendengar cerita dari rekan-rekan lain tentang bagaimana senior itu memperlakukan dia. Bentuk bullying tidak selalu fisik. Bisa berupa menyebarkan rumor, memberi silent treatment, atau mempersulit urusan. Itu semua juga bentuk bullying.
Yang mengejutkan, alasan dia dibully ternyata sepele. Gara-gara tidak sengaja melihat si senior berduaan di kantor di luar jam kerja. Karena takut rahasianya terbongkar, si senior justru mencari-cari kesalahan dan menekan orang itu.
Aku juga pernah melihat kasus lain. Ada seorang staf pindahan dari perusahaan besar ke perusahaan yang lebih kecil, dengan alasan ingin satu kota dengan keluarganya. Begitu masuk, dia langsung kelihatan menonjol: serba bisa, cekatan, dan cepat beradaptasi. Nah, di sinilah masalahnya. Senior yang sudah lama berada di zona nyaman mulai merasa kepanasan.
Perkara demi perkara muncul: si staf baru dituduh tidak sopan pada karyawan yang lebih tua, dipermasalahkan soal lembur, bahkan diisukan dengan berbagai gosip. Semua serangan itu diarahkan ke individu, bukan ke kinerjanya. Padahal di dunia kerja, biasanya orang yang cakap justru lebih diandalkan atasan. Dan benar saja, atasan lebih banyak melibatkan staf baru ini dalam pekerjaan penting. Itu yang membuat si senior merasa tersaingi, lalu makin keras menekan.
Dari dua cerita itu aku belajar: selalu ada alasan di balik ketidaksukaan seseorang terhadap kita. Kadang karena tanpa sengaja kita tahu aibnya, kadang karena kemampuan kita membuat orang lain merasa kalah bersaing. Intinya, bukan semua salahmu.
